Rhinoceros beetle
Mirat Muda Chairil Muda
Chairil suatu hari berkata pada asrul sani: `Kau perhatikan orang itu, aku mau mengantongi Nietzsche ini.’ Chairil memakai celana komprang dengan dua saku lebar, cukup besar untuk menelan buku itu. ya, mereka mencuri buku di perpustakaan Jalan Juanda.
Asrul sani, sekolah di kedokteran hewan lalu menjadi seorang sutradara. tapi Chairil, yang pada awalnya bertanya tentang “apa gunanya hidup jika kemudian kita mati”, pada akhirnya menerima dan mengucapkan kata mati dengan biasa saja. Mati muda.
jika saya ditanya apa sajak chairil yang terkenal, maka sebutlah Aku, Diponegoro atau Karawang Bekasi. sajak-sajak mimbar, yang diucapkan dengan tangan terkepal. tapi entah kenapa aku lebih suka chairil ketika dia disebuah senja di pelabuhan kecil, digunung dengan derai-derai cemaranya atau ketika dia terempas dan putus. dan juga saat dia muda, dekat dengan mirat nya.
Mirat Muda, Chairil Muda di pegunungan 1943 Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah, Menatap lama ke dalam pandangnya coba memisah matanya menantang yang satu tajam dan jujur yang sebelah. Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil; dan bertanya: Adakah, adakah kau selalu mesra dan aku bagimu indah? Mirat raba urut Chairil, raba dada Dan tahulah dia kini, bisa katakan dan tunjukkan dengan pasti di mana menghidup jiwa, menghembus nyawa Liang jiwa-nyawa saling berganti. Dia rapatkan. Dirinya pada Chairil makin sehati; hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras, menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati. 1949
Project In Development. HarimauHarimau.
Dien.
Atjeh
ke aceh,
cimeng, dodol cimeng, kopi cimeng, apa lagi?
ada puisi yang tak terkuburkan yang dishoot garin dengan tergesa-gesa, ada juga black road yang entah seberapa jauh bisa dipercaya, dan ada orang-orang yang mencari uang dengan menjual kemanusiaan. dam sebentar lagi, aku menjadi bagiannya.
dan ada Tjoet Nya Dhien, seorang perempuan yang rela.
ah tidak, Dhien tidak lagi di aceh„
Tanggal 11 Desember 1906, Pangeran Aria Suriaatmaja, Bupati Sumedang waktu itu, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok. Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tetap kelihatan tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.
Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria Suriaatmaja tidak menempatkannya di penjara. Melainkan memilih menempatkannya disalah satu rumah milik tokoh agama setempat. Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta dan menderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 08 November 1906 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan tua itu.
Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan tua itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka tahu, karena kesehatannya yang sangat buruk, perempuan tua nyaris tak pernah keluar rumah. Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajari mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung.
Sesekali mereka membawakannya pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu yang belakangan karena penguasaanya terhadap ilmu-ilmu agama disebut dengan Ibu Perbu. Waktu itu tak ada yang menyangka bila perempuan tua yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalah The Queen of Aceh Batlle dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien. Ya, hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi.
Jauh dari tanah air dan orang-orang yang dicintai.
(source : http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/cut-nyak-dhien)
Clementine.
Why do I fall in love with every woman I see who shows me the least bit of attention?
Namanya Joel Barish, ia menyembunyikan Clementine di sebuah ingatan tentang masa kecilnya, di bawah meja makan. Clementine adalah seorang yang impulsive, dan ia menghapus ingatan tentang Joel.
melihat kembali Eternal Sunshine adalah seperti bertemu lagi dengan Clementine di Montauk. seperti menemukan sebuah kunci untuk membuka lubang kedalam ingatan lama. yah, film ini adalah ingatan yang indah, film tentang ingatan yang indah, film yang indah.
Apa yang akan kamu lakukan ketka bertemu dengan dr Howard? dan mempunyai kesempatan untuk menghapus kejadian-kejadian indah yang berakhir, kejadian-kejadian indah yang berakhir kejam. Clementine, impulsive, dan Joel ternyata juga. aku mungkin juga akan memilih itu. ingatan barangkali adalah salah satu tanda bahwa masa lalu itu ada, bahwa waktu benar-benar ada, dan waktu berjalan kedepan, meninggalkan jejak-jejak itu, bahagia, sakit dan luka.
orang memang mudah lupa akan hal-hal yang biasa, tapi tidak untuk hal-hal yang menyakitkan dan yang menyenangkan dengan sangat. tapi ternyata kita tidak mempunyai kemampuan untuk itu, memilih mana yang bisa kita lupa. barangkali, itu adalah sebuah rambu-rambu penanda lubang besar di jalan, bahwa kemudian hari, kita tidak perlu memasukinya lagi karena kesalahan yang sama.
tapi entah,
How happy is the blameless vestal’s lot!
The world forgetting, by the world forgot
Eternal sunshine of the spotless mind!
Each pray’r accepted, and each wish resign’d.
suatu hari, Joel pergi kesebuah pantai, dingin dan beku.
dia tak berani menatap dan memicu sebuah kontak dengan seorang gadis berjaket kuning dan berambut biru. sederhana saja alasannya
“Why do I fall in love with every woman I see who shows me the least bit of attention? “
dia takut, dia takut jatuh cinta dan menuruti apa yang dia rasakan. dan Clementine menyapanya duluan, sama dengan masa lalu ketika dahulu sebelum mereka saling lupa.
inilah alasan terbesar mengapa aku suatu saat ingin bertemu dengan dr. Howard. menghapus ingatan-ingatan. bertemu lagi dengan orang yang sama, jatuh cinta lagi dengan orang yang sama, dan berani mengambil resiko jika pada masanya ketika memang harus terjadi kejadian-kejadian kejam.
tapi, bukankah kejadian-kejadian yang indah memang harus ada harganya?
Joel : I can’t see anything that I don’t like about you.
Clementine : But you will! But you will. You know, you will think of things. And I’ll get bored with you and feel trapped because that’s what happens with me.
Joel : Okay.
Clementine : Okay.
I heard a joke once: Man goes to doctor. Says he’s depressed. Says life is harsh and cruel. Says he feels all alone in a threatening world. Doctor says, “Treatment is simple. The great clown Pagliacci is in town tonight. Go see him. That should pick you up.” Man bursts into tears. Says, “But doctor… I am Pagliacci. ….. ” Good joke. Everybody laugh. Roll on snare drum. Curtains.
hujan
Aah„ hujan, jendela yang terbuka dan bau tanah basah. Kau tahu„ trnyata hal hal kecil itulah yang ingin kubagi padamu, Kau tak perlu repot membuatkan kopi untukku„ atau menyiapkan air hangat untuk mandi, aku hanya perlu kau disini„, duduk saja, melengkapi udara dengan bau rambutmu, atau berdiri sedikit didepan tingkap„, aku suka melihatmu melihat hujan. Kau pakai saja baju itu, sedikit kebesaran tapi kau akan merasa hangat, sedikit bau, tapi bukankah kau suka pada keringatku„, biarkan saja angin menelusur sela jendela, dan udara membawa basah percik percik air dari beranda„ aku suka pada angin yang membuatmu menjadi dingin, aku akan menunggumu sedikit menggigil„, dan melihatku„ ingin memelukmu…
Original Soundtrack from #republiktwitter - Ipang Lazuardi, Jatuh Hati
membersihkan kolam
ah„,
sore itu. aku menemuimu di depan rumah
kolam ikan dan selang air, sedikit basah.
adakah yang tahu bahwa matahari tenggelam dan warna pelangi itu kadang terbit dimatamu? sesaat sebelum kau berdiri dan menyapaku.
aku masuk. berbaring di depan tivi. kau teriak dari luar. ada ikan yang mati. warna pelangi itu kini sedikit buram, tersaput sedikit gelisah. aku berdiri lalu duduk disampingmu. kau kini memegang jaring, mengangkatnya dan menepikan ikan itu. lalu kita mengubur ikan itu
selesai… katamu.
aku melihat lagi kearahmu, matamu, dengan biasa saja. menahan sedikit senyum dan melihatmu masuk kedalam membasuh tangan. hanya aku yang tahu bahwa ternyata memang matamu, yang menyimpan warna matahari tenggelam itu.
ikan, tumbuhan menjalar di pot, pagar dan gelembung air.
sore itu malam datang pelan
Stasiun
dini hari itu, aku datang dari jakarta.
jendela kereta adalah frame yang hilir mudik memutar adegan-adegan gelap samar, sesekali pematang dengan satu dua lampu berkejaran di pinggir jalan, sesekali desa yang sepi, bebrapa orang tidur di pos ronda, dengan istri yang memeluk anaknya dirumah. suatu kali jalan panjang dan para perajin pedagang yang dingin gemetar di perlintasan jalan.
lalu suara dengkur matahari yang lelap dini hari itu memanggil para penyeru tuhan berteriak di surau-surau yang jauh. aku bukan pengikut yang setia, tapi aku masih saja takjub dengan orang-orang berkain sarung itu, para pemeluk teguh. yang melawan kantuk dengan air dingin menusuk.
jogja beberapa menit lagi, dan tugu selalu membuatku bangun pada masa lalu, kenangan purba tentang tasiun dan kereta. sebuah titik kelahiran dan kematian-kematian kecil bertemu. ibu itu adalah kereta-kereta ini, yang melahirkan pertemuan-pertemuan, ia adalah juga malaikat maut yang merampas semuanya, mengambil darimu ibu yang rajin, ayah yang bijak, dan kekasih yang setia: dengan perpisahan.
kereta ini adalah ibu kandung pertemuanku dengan masa depan. setelah meninggalkan kota ini untuk dua bulan, aku datang lagi menjemput kenangan, pulang. dan kereta merapat.
aku selalu membayangkan berdiri saja di tempat ini, setelah turun dari kereta, memegang tangan seseorang yang menungguku, menikmati setiap debaran, detak yang terasa pada pergelangan tangannya. menatapnya ketika ramai orang disamping kereta mundur kebelakang, berbisik tanpa suara ketika peluit kereta dinyalakan dan mengecup bibirnya ketika semua orang mengucap selamat jalan. dan lalu kami masih bersandar di tembok peron tunggu stasiun itu.
Ahh„
di pintu keluar, orang-orang berhambur datang dan pergi, orang berpelukan bahagia, beberapa yang lain menangis sedih,beberapa berpelukan sedih, dan beberapa menangis bahagia. beberapa yang lain mengantar dan memperhatikan. kau masih ingat bukan? setiap pertemuan, menyembunyikan pisau disebalik pinggang. ditempat inilah ia mengeluarkan pisau itu: perpisahan.
aku turun dari kereta, seorang ibu kebingungan mencari keluarganya, dua orang perempuan dengan dada ranum berangkulan rapat dan tertawa-tawa, anak kecil berjalan terseret dengan setengah mimpi yang masih tergantung, dan seorang penjual koran terpaksa setengah memaksa orang-orang untuk mengetahui apa kabar dunia hari ini. aku menyusur koridor kursi berjajar, berdiri merapat dinding belakang dan melihat rang-orang yang saling melihat.
bagiku, stasiun dan kereta bukan tentang pertemuan dan perpisahan itu, ia adalah debar jantung itu. gemetar tanah stasiun adalah degub yang menghidupkan„ kau pernah merasa suatu ketika sesuatu membuatmu bergetar hebat dan setiap inch tubuhmu merasa begitu hidup? begitulah„, gemetar kereta yang datang atau pergi selalu menyalakan lagi hidup yang redup, membuat setiap peristiwa demikian rapat demikian akrab.
diperon inilah bagiku, adalah tempat yang tepat menyimpan rahasia., dinding yang angkuh, orang-orang yang tak perduli, dan kereta yang entah kemana.
ada orang yang menyimpan doanya di bawah sajadah, menceritakan kepada tuhannya pada dini hari yang angkuh.
seorang teman„ dia menyimpan rahasianya didalam telinga temannya. dia adalah orang yang percaya bahwa sebuah rahasia adalah beban berat yang harus dibagi, untuk merasa ringan dan lega. maka ia memilih lubang telinga temannya untuk berbagi, untuk menyimpan rahasia itu didalam lubang itu dan percaya, bahwa pemilik telinga itu akan menutup rapat lubang itu setelahnya. beruntunglah orang-orang yang mempunyai kepercayaan dan teman semacam itu.
seorang teman yang lain, menyimpannya didalam hati, lalu memampatkannya dengan sebuah tangisan, kemudian mengeluarkannya dalam bentuk air mata. seorang teman yang lain, dia menceritakan semua rahasianya kepada botol demi botol bir dan obrolan ringan ditengah malam, seorang teman yang lain memilih diam, dan meyakini bahwa rahasia memang semestinya tak terkatakan.
aku, menceritakannya disini„ stasiun yg gemetar. menitipkannya pada gerbong kereta yang lewat, dan terserah„ sampai mana rahasia itu akan menemukan stasiun pemberhentian, diantara kelahiran dan kematian, perpisahan dan pertemuan.
bukankah masing-masing kita hidup diantaranya?
In the old days, if someone had a secret they didn’t want to share… you know what they did?
They went up a mountain, found a tree, carved a hole in it, and whispered the secret into the hole. Then they covered it with mud. And leave the secret there forever. (Chow Mo wan ~ in the mood for love)
apa yang kau suka dari kereta dan stasiun?
sekarang giliranmu menceritakan bagaimana caramu menyimpan rahasia…
kita semua tahu Chril, revolusi libur setiap hari.
Desember
Tidak biasanya kamarku sedingin ini
Tapi desember, musim yang selalu menjauhkan orang orang, memisahkan dengan hujan, dan menuakan penantian, membuat kusut selimut, kaca jendela dan hatimu.
Ah, satu satunya yang kusuka dr bulan ini adalah kesempatan
utk merapal doa,
keabsahan untuk meretas harapan yg putus
dan menyambungnya kembali,
dan gerimisnya..
Selamat desember
Epilog
Entah kenapa, setiap Oktober datang, aku merasa matahari mulai sedikit redup, musim bergerak lebih lambat, dan orang-orang berjalan menunduk. apakah karena hujan, gerimis yang menjadi selepas kemarau yang aneh? mungkin tidak, mungkin hanya aku saja yang berlebihan, atau karena ingatan-ingatan? kata temanku: ‘Ada yang mengingat oktober lebih dari biasanya, ketika hujan dimulai dan bungaa merah disepanjang jalan, seorang laki-laki telah jatuh cinta, ia terjebak didepan cermin, dan tak menemu jalan kembali.’ mungkin karena kadang, aku merasa, aku adalah laki-laki itu. yang terjebak didepan cermin. tapi, siapa dia yang tak pernah tunduk kepada cermin, kepada dirinya sendiri? Oktober bukan waktu yang tepat untuk bersibuk mungkin, cukuplah duduk disamping jendela, cukupkan teh atau kopimu. maka, kukirimkan padamu kisah ini, kesendirian Seno Gumira pada senja yang kuning. kepada Alina, untuk menemanimu. ——— Epilog: Surat Seno Gumira A Alina tercinta,Surat ini kutulis di bawah cahaya senja yang keemasan, yang membentuk sepetak lempeng emas di atas meja, di tempat sekarang aku memikirkan dirimu.Apakah yang sedang kau lakukan Alina ? Apakah kamu sedang minum kopi ? Apakah kamu sedang menyetir di belantara kemacetan yang menjengkelkan ? Apakah kamu sedang berada di suatu tempat entah di mana di balik bumi yang memandang senja perlahan-lahan menjadi malam ?Kutulis surat ini perlahan-lahan Alina, seolah bukan tangan yang bergerak di atas kertas, melainkan hati yang menerjemahkan dirinya ke dalam tinta, langsung membentuk huruf-huruf yang berusaha merengkuh dirimu, nun entah di ufuk yang mana. Kulihat langit di luar makin menggelap, dan lempengan emas di mejaku meredup, begitu rupa seolah-olah matahari di luar sana telah mengkerut dan tiba-tiba menjauh, tapi itu semua barangkali tidak penting bukan Alina ? Matahari senja yang lenyap ditelan gedung-gedung bertingkat tidaklah lebih penting dari begitu banyak hal lain yang berlangsung hari ini – ulat yang menggeliat di atas daun, satpam yang tertidur di kursi jaga, seorang wanita berkaki satu yang mengemis di bawah jembatan layang, kereta api dari Yogya yang memasuki stasiun, gadis yang menangis, gelembung permen karet yang pecah, suara seruling, suara klakson, seorang menteri terbatuk-batuk, seorang penari mengibaskan selendang…Aku tahu aku bisa saja menelponmu Alina, dan kita akan bicara, begitu lama, sebisanya, seperti hari-hari yang kita lewati bersama – tapi, kali ini, biarkanlah aku menulis surat ini untukmu, demi sesuatu yang barangkali saja bisa abadi. Siapa tahu. Kita kan boleh berharap segala sesuatu yang paling kecil, paling sepele, paling tidak penting, tapi mungkin indah bagi kita berdua, bisa tetap tinggal abadi ? Seperti daun melayang tertiup angin, yang kita tidak tahu lagi di mana, namun masih tetap tinggal indah dalam kenangan kita. Begitulah memang aku ketemu kamu Alina, di sebuah ruang di bagian semesta yang gelap di mana waktu tak tercatat, seperti bisikan, di mana kita hanya saling menyentuh, dan tak selalu ketemu, tapi bisa saling merasa, dan dengan itu toh bisa membangun dunia kita sendiri. Dari kelam ke kelam kita arungi waktu Alina, dan dengan gumam perlahan-lahan karena ruang bukan milik kita, dan setiap orang selalu merasa punya kepentingan yang sama besarnya. Barangkali juga karena kepentingannya jauh lebih besar dari urusan kita. Bisakah diterima perasaan kita begitu penting untuk sebuah kota yang gemerlapan di mana senja tiada artinya ? Kukira kamu masih ingat senja di pantai itu Alina. Senja yang memastikan bahwa hari telah berlalu, dan kita hanya bisa saling memandang, serta berkata diam-diam dalam hati : ” Betapa waktu begitu singkat.” Waktu memang tak akan pernah cukup Alina, tak akan penah cukup untuk sebuah keinginan yang memang tidak akan mungkin terpenuhi, seperti begitu banyak cita-cita tersembunyi selama-lamanya. Barangkali kita hanya harus merasa semua ini sudah cukup, dan bersyukur karena sempat mengalami saat-saat yang indah. Seperti perasaan kita ketika memandang matahari senja, yang toh tak bisa tetap tinggal di sana. Alina tercinta,Barangkali memang kita memang tidak usah terlalu peduli dengan semua ini. Karena serbuk-serbuk perasaan yang tersisa, juga telah lenyap ditiup angin bercampur baur dengan debu yang berterbangan, yang hanya kadang-kadang saja akan kita kenali kembali, jika arah angin menuju ke arah kita. Perasaan-perasaan yang akan membuat kita berkata : ” Aku seperti pernah berada di sini, pada suatu masa entah kapan , dari masa lalu atau masa depan.” Memang banyak hal yang tidak harus kita mengerti Alina, ada saatnya kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa dan tidak perlu menyesali apa-apa, kecuali hanya merasa, bergerak, dan menjelma.Tapi sudahlah Alina, kita kenang saja waktu dalam gelas kopi itu, yang akan segera mendingin sebelum senja tiba. Bukankah kita sudah cukup bahagia, meskipun hanya saling bertanya ? Begitu banyak kabar dari jauh, tentang ruang dan bumi yang selalu mengeluh. Begitu banyak kepedihan di jalanan, darah berceceran, dan kita begitu sibuk dengan perasan kita sendiri — tapi apalah salahnya ? Aku sering berpikir tentang betapa fana hidup kita. Sepotong riwayat di tengah jutaan tahun semesta. Dua orang di belantara peristiwa. Apakah kita masih punya arti Alina, dalam ukuran tahun cahaya ? Aku pun bertanya-tanya, apakah semua itu ada maksudnya ? Sebuah sudut di dalam kafe, lampu remang di pojok teman, sepotong percakapan yang kadang-kadang terganggu. Semuanya bagai tak pernah utuh, tak pernah selesai, dan tidak mungkin jadi lengkap — namun siapa yang menuntut semua ini harus sempurna ? Kita sudah tahu semua ini memang tidak bisa jadi apa-apa, dan barangkali memang tidak perlu menjadi apa-apa. Kita toh sudah senang meski hanya saling memandang, dan menengok segala penyesalan sebelum pertemuan, dan tahu memang tidak ada yang bisa disalahkan, sehingga kita memang tidak perlu bertanya, ” Kenapa harus jadi begini ?” Apa boleh buat. Hidup barangkali memang cuma seperti sebuah keemasan. Seperti opera sabun. Barangkali seperti itulah hidupku Alina — seperti opera sabun. Barangkali dari sensasi satu ke sansasi lain, dengan bau parfum yang berlainan setiap kali pulang, dan kita tidak punya cukup kemampuan untuk menghindarinya. Kulihat begitu banyak manusia berjejal di bawah sana, barangkali kamu berada di antara mereka Alina, begitu sesak kota ini, seperti tiada tempat lagi untuk bangunan batu. Gedung-gedung terus tumbuh ke atas, hanya untuk menampung manusia. Mereka semua akan menjadi bagian dari opera sabun itu Alina, opera sabun tentang orang-orang yang terus-menerus memburu sensasi dalam hidupnya. Barangkali, ya barangkali, kita memang harus berpesta sebelum tenggelam dalam sebuah perkabungan yang panjang. Aku di sini saja Alina, menulis surat untukmu, di salah satu gua di belantara kota yang memabukkan. Pastilah hidup ini memabukkan Alina, sangat sering membuat kita lupa ada kematian. Dari senja ke senja kutulis surat kepadamu Alina, sekedar untuk mencoba merasa bahwa kehidupan yang fana itu masih ada, masih menggerakkan serat-serat halus perasaan kita, sekedar untuk membuktikan bahwa kita belum menjadi dodol yang lumutan. Kalaulah aku bisa menuliskan surat ini langsung ke dalam hatimu Alina, aku akan melakukannya, seperti awan mengubah dirinya menjadi hujan, supaya bisa menyatu ke daratan. Tapi aku tidak bisa melakukannya Alina, aku hanya bisa menulis surat seperti ini, surat seseorang yang barangkali agak kacau pikirannya – kurang lurus, tidak jernih, dan terlalu banyak mengumbar perasaan. Maafkanlah semua itu Alina, barangkali aku memang tidak dilahirkan untuk membahagiakan semua orang.Alina tercinta, masih selalu tercinta, dan akan selalu tercinta. Di luar senja telah menjadi ungu Alina, dan aku tiba-tiba merasa tua. Senja merah yang keemasan berubah menajdi ungu bagaikan akhir sebuah cerita yang muram. Jangan salahkan aku Alina, ini bukan keinginanku senditi. Aku hanya menulis surat yang menerjemahkan diriku kepadamu, dari salah satu ruang di sarang lebah di hutan belantara yang gemerlapan. Cahaya listrik berkeredap riang di antara kelam tapi tak juga mampu mengusik suasana hatiku yang lagi-lagi menjadi rawan. Apakah aku harus mengangkat telepon yang berdering itu, dan tenggelam ke dalam opera sabun yang lain ? Aku sudah capek Alina, capek memanjakan perasaan. Barangkali memang sudah waktunya kita harus menjadi kejam kepada diri kita sendiri. Membiarkan perasaan kita menggelepar seperti ikan, dan mencoba hidup bersama dengan kenyataan. Masalahnya, apakah kenyataan mau hidup sama kita ? Sudah terlalu sering aku mendengar tentang seseroang yang mati sendirian di kamar, kesepian tanpa teman, membusuk perlahan-lahan. Jangan-jangan aku akan mati seperti itu, duduk di kursi seperti sekarang, ketika sedang menulis surat untukmu, karena memang kamu yang selalu, selalu, dan selalu kukenang dan kucemaskan. Ah—sedang apa kamu Alina, sedang duduk melamun sendirian atau menyetir mobil di tengah hujan ? Apakah kamu masih selalu memanggil tukang pijat, setelah berhari-hari diterpa kelelahan yang seolah-olah merontokkan tulang ? Begitulah keadaanku sekarang Alina, merasa tua, mudah capek dan mulai ubanan. Barangkali sudah waktunya aku mengundurkan diri dari dunia persilatan, menyembunyikan diri ke sebuah gua di puncak gunung, dan mempelajari kitab-kitab tentang kesempurnaan. Celakanya kehidupan ini tidaklah begitu mirip dengan dunia persilatan. Kehidupan ini bisa begitu menyiksa tanpa ada korban, karena segala sesuatunya memang keras tanpa ada kekerasan, kejam tanpa ada kekejaman, dan begitu menghancurkan tanpa harus ada penindasan. Inilah suratku Alina, surat seseorang yang menyandarkan kehidupannya pada kenangan, dan kenangan itu adalah kamu. Kita semua memang menjadi tua Alina, tak apa, bumi begitu ungu di luar, ungu dan kelam – tapi siapakah yang akan merasa kehilangan ? Kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana Alina, percayalah, kita, kamu dan aku, akan tetap tinggal di sini, saling mengenang ketika senja tiba, selamanya, karena aku telah menulis surat tentang kita, dalam huruf-huruf yang membentuk kata-kata cetak, yang tidak akan pernah hilang lagi untuk selama-lamanya. ———-
Mirat Muda, Chairil Muda
Chairil suatu hari berkata pada asrul sani„ `Kau perhatikan orang itu, aku mau mengantongi Nietzsche ini.’ Chairil memakai celana komprang dengan dua saku lebar, cukup besar untuk menelan buku itu. ya, mereka mencuri buku di perpustakaan Jalan Juanda. Asrul sani, sekolah di kedokteran hewan lalu menjadi seorang sutradara. tapi khairil, yang pada awalnya bertanya tentang apa gunanya hidup jika kemudian kita mati, menerima dan mengucapkan kata mati dengan biasa saja. jika kita bertanya apa sajak chairil yang terkenal, maka sebutlah Aku, Diponegoro atau Karawang Bekasi. sajak-sajak mimbar, yang diucapkan dengan tangan terkepal. tapi entah kenapa aku lebih suka chairil ketika dia disebuah senja di pelabuhan kecil, digunung dengan derai-derai cemaranya atau ketika dia terempas dan putus. dan juga saat dia muda, dekat dengan mirat nya. Mirat Muda, Chairil Muda di pegunungan 1943 Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah, Menatap lama ke dalam pandangnya coba memisah matanya menantang yang satu tajam dan jujur yang sebelah. Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil; dan bertanya: Adakah, adakah kau selalu mesra dan aku bagimu indah? Mirat raba urut Chairil, raba dada Dan tahulah dia kini, bisa katakan dan tunjukkan dengan pasti di mana menghidup jiwa, menghembus nyawa Liang jiwa-nyawa saling berganti. Dia rapatkan. Dirinya pada Chairil makin sehati; hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras, menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati. 1949


